Aplikasi iBrailler Notes adalah aplikasi ketik catatan dengan huruf Braille yang digagas oleh seorang Doktor lulusan Stanford, Sohan Dharmaraja. Aplikasi iBrailler Notes mengadaptasi cara kerja Perkins Brailler, mesin ketik khusus untuk hufur Braille.
Karena tidak memiliki wujud fisik selayaknya mesin ketik Perkins Brailler, aplikasi iBrailler Notes memiliki mekanisme kalibrasi untuk memudahkan pengguna memperkirakan posisi tombol tanpa harus meraba-raba. Jika pengguna kehilangan jejak posisi tombol yang sudah dikalibrasi sebelumnya, kalibrasi ulang dilakukan dengan meletakkan kesepuluh jarinya kembali untuk memperoleh posisi tombol yang baru.
![]() |
| User Interface iBrailler Notes: Adaptasi sistem Perkins Brailler dengan fitur kalibrasi ulang posisi jari (dok. iBrailler.com) |
Selebihnya, sama seperti Perkins Brailler, aplikasi iBrailler Notes dapat digunakan dengan kombinasi sentuh beberapa jari untuk mengetik. Jika pada Perkins Brailler huruf yang timbul di atas kertas adalah huruf Braille, aplikasi iBrailler Notes justru menampilkan huruf alfabet dan disuarakan setiap hurufnya.
Banyak fitur yang ditanamkan pada aplikasi iBrailler Notes. Tak hanya mendukung kemudahan bagi tuna netra, aplikasi ini juga memudahkan pengguna yang memiliki gangguan penglihatan seperti buta warna. Beberapa fitur unggulan dari aplikasi iBrailler Notes adalah layout khusus & user-friendly, Smart keyboard yang mampu menemukan dimana posisi jari pengguna, fitur Sharing, dan mendukung berbagai standar huruf braille.
Aplikasi iBrailler Notes saat ini hanya mendukung penggunaan bahasa Inggris dan terbatas pada pengguna iOS secara freemium, yang artinya pengguna dapat menggunakan fitur dasar secara gratis namun harus membayar untuk akses ke fitur yang lebih lengkap. Belum ada kepastian kapan aplikasi versi Android dan dukungan multi bahasa akan diluncurkan.
Aplikasi iBrailler Notes, Dahulu Hingga Kini
Sohan Dharmaraja memperoleh ide untuk membuat aplikasi iBraille Notes ketika ia mengunjungi Standford Office of Accessible Education, pusat edukasi yang membantu para tuna netra dan penderita gangguan penglihatan agar dapat mengakses edukasi yang lebih baik.Sohan Dharmaraja membangun prototype Brailler dengan layar sentuh bersama Adrian Lew, seorang Profesor dari Teknik Mesin Stanford, dan Adam Duran dari Universitas Negeri New Mexico. Prototype berhasil diselesaikan dalam dua bulan.
Setelah memperoleh gelar Doktor dari Stanford, Dharmaraja kembali ke negara asalnya, Sri Lanka, untuk menyempurnakan aplikasi yang kemudian ia perkenalkan sebagai iBrailler Notes. Dia menjadi CEO dari iBrailler LLC lalu merekrut sekelompok orang Sri Lanka yang menderita tuna netra dan gangguan penglihatan sebagai penguji.
Salah satu kesulitannya adalah menghadapi difabel yang minim pengetahuan teknologi. Kaum difabel Sri Lanka tidak seberuntung difabel negara barat yang rata-rata mengenal teknologi.
![]() |
| Uji coba oleh difabel: Pengarahan mengenai aplikasi iBrailler Notes pada penguji. (dok. Sohan Dharmaraja) |
"Para penguji kami bahkan tidak mengetahui apa itu komputer tablet atau layar sentuh. Lebih-lebih cara bagaimana menggunakannya. Kami harus mengajarkan mereka bagaimana menggunakan layar sentuh terlebih dahulu sebelum mereka mampu membantu kami untuk mengembangkan produk kami", ujar Dharmaraja pada Stanford News.
Dalam membangun iBrailler, tim juga memperoleh bantuan penguji dari Lighthouse for the Blind and Visually Impaired asal San Fransisco dan penguji dari Federasi Pengusaha Ceylon. Proyek ini pun didanai oleh National Science Foundation Sri Lanka.



Comments
Post a Comment