![]() |
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, M. Nuh, didampingi Rektor ITS, Triyogi Yuwono, mencoba mesin cetak huruf Braille produksi Elektro ITS.(Dok. ITS Online) |
Kabar gembira bagi para pengidap tunanetra dan pengajar anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia. Tidak lama lagi, buku dan literatur Braille akan semakin mudah diakses dan diproduksi. Rabu pagi, 8 Oktober 2014, Institut Teknologi Sepuluh Nopember(ITS) Surabaya meluncurkan purwarupa mesin cetak huruf Braille, bersamaan dengan peresmian Digital Innovation Lounge,
Mesin cetak huruf Braille ini adalah hasil dari kerjasama antara Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK), Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan jurusan Teknik Elektro ITS. Empat peneliti utama yang terlibat adalah Ir. Hendra Kusuma M.Eng.Sc., Ir. Tasripan MT., Dr. Tri Arief Sardjono ST. MT., dan Rudy Dikairono ST. MT.
Mesin cetak huruf Braille ini dibangun dari pengetahuan yang diperoleh dari hasil penelitian dari mesin cetak huruf Braille asal Norwegia, Braillo-200 dan Braillo-400. Meski demikian, keempat peneliti tersebut mampu membuktikan kehandalannya dengan membangun mesin yang lebih ringkas dan lengkap.
Mesin cetak huruf Braille ini diklaim mampu mencetak 400 karakter per detik, 42 karakter per baris pada dua sisi kertas. Mesin cetak ini juga dilengkapi dengan mode tes hardware yang tidak ditemukan pada Braillo. Salah satunya adalah tes jarum, yang berfungsi untuk memastikan semua jarum bekerja sebagaimana mestinya. Integrated Circuit(IC) yang pada mesin aslinya sejumlah 45 buah, diringkas menjadi 5 IC saja. Selain itu, mesin cetak Braille yang dibangun ITS juga lebih mudah dioperasikan, dirawat, serta kompatibel dengan sistem operasi komputer terkini. Perlu digarisbawahi bahwa 85% komponen suku cadang adalah buatan Indonesia.
Hendra Kusuma, melalui wawancara ekslusif Himatektro ITS, menuturkan latar belakang dari pembuatan mesin cetak huruf Braille ini. Dahulu, agar dapat menyediakan sendiri buku dan literatur dalam huruf Braille, Indonesia mengimpor mesin cetak Braillo-200 dan Braillo-400 dari Norwegia. Seiring berjalannya waktu, tak banyak lagi tenaga yang siap merawat dan memperbaiki Braillo. Absennya perawatan yang memadai, menjadikan banyak Braillo yang mengalami kerusakan. Biaya perbaikan yang cukup tinggi menekan Direktorat Pembinaan PKLK untuk mencari alternatif solusi.
Setelah ditawarkan ke beberapa lembaga dan ditolak, Direktorat Pembinaan PKLK 'menantang' Elektro ITS untuk membantu melakukan revitalisasi mesin cetak Braillo-200. Tahun 2012, Elektro ITS berhasil melakukan revitalisasi dengan melibatkan 48 sekolah. Tahun 2013, Elektro ITS juga sukses melakukan revitalisasi printer Braillo-400 yang dimiliki oleh 10 sekolah. Guru di Sekolah Luar Biasa(SLB) terkait juga mendapat kecakapan tambahan melalui workshop Troubleshooting, agar dapat melakukan perawatan yang sesuai dan perbaikan dasar.
Berlanjut dari kesuksesan revitalisasi, Elektro ITS ditunjuk untuk membuat produk serupa dengan Braillo, tentu dengan memperhatikan etika yang ada. Alhamdulillah, setelah menerima tantangan dari Direktorat Pembinaan PKLK pada April 2012, kini Oktober 2014 tantangan tersebut telah terjawab.Mesin cetak huruf Braille ini diklaim mampu mencetak 400 karakter per detik, 42 karakter per baris pada dua sisi kertas. Mesin cetak ini juga dilengkapi dengan mode tes hardware yang tidak ditemukan pada Braillo. Salah satunya adalah tes jarum, yang berfungsi untuk memastikan semua jarum bekerja sebagaimana mestinya. Integrated Circuit(IC) yang pada mesin aslinya sejumlah 45 buah, diringkas menjadi 5 IC saja. Selain itu, mesin cetak Braille yang dibangun ITS juga lebih mudah dioperasikan, dirawat, serta kompatibel dengan sistem operasi komputer terkini. Perlu digarisbawahi bahwa 85% komponen suku cadang adalah buatan Indonesia.
Berawal dari 'tantangan' Direktorat Pembinaan PKLK
Hendra Kusuma, melalui wawancara ekslusif Himatektro ITS, menuturkan latar belakang dari pembuatan mesin cetak huruf Braille ini. Dahulu, agar dapat menyediakan sendiri buku dan literatur dalam huruf Braille, Indonesia mengimpor mesin cetak Braillo-200 dan Braillo-400 dari Norwegia. Seiring berjalannya waktu, tak banyak lagi tenaga yang siap merawat dan memperbaiki Braillo. Absennya perawatan yang memadai, menjadikan banyak Braillo yang mengalami kerusakan. Biaya perbaikan yang cukup tinggi menekan Direktorat Pembinaan PKLK untuk mencari alternatif solusi.
Setelah ditawarkan ke beberapa lembaga dan ditolak, Direktorat Pembinaan PKLK 'menantang' Elektro ITS untuk membantu melakukan revitalisasi mesin cetak Braillo-200. Tahun 2012, Elektro ITS berhasil melakukan revitalisasi dengan melibatkan 48 sekolah. Tahun 2013, Elektro ITS juga sukses melakukan revitalisasi printer Braillo-400 yang dimiliki oleh 10 sekolah. Guru di Sekolah Luar Biasa(SLB) terkait juga mendapat kecakapan tambahan melalui workshop Troubleshooting, agar dapat melakukan perawatan yang sesuai dan perbaikan dasar.
Sejauh ini terdapat kurang lebih 2560 SLB di Indonesia. Padahal hanya sedikit yang memiliki printer Braille. Jika ITS dapat membuat sendiri mesin cetak huruf Braille, tentu biaya yang diperlukan akan lebih murah. Hal tersebut dapat meringankan pemerintah untuk mensuplai kebutuhan pendidikan inklusif yang prima khususnya para penyandang tunanetra,
Comments
Post a Comment